Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 
 Intermezo
   Berburu Dolar

  Info
    Kirim Info/Tanya
    Baca Rumor/Info

  Tutorial
     Pasar Modal
     Saham
     Reksadana
     Obligasi


 Homepage

Tutorial Pasar Modal



Pengelola Bursa : BEJ & BES
Tokonya : Broker Saham
Ada  wasitnya, lo!
Barang Dagangannya : Saham
 
 

Pengelola Bursa : BEJ & BES

Pasar modal bisa diibaratkan mal atau pusat perbelanjaan seperti Plaza Senayan atau Pondok Indah Mal. Yang berbeda adalah barang yang diperjualbelikan di sana. Biasanya pusat perbelanjaan umum menjajakan pelbagai macam barang kebutuhan hidup dari makan sampai pakaian, dari perhiasan sampai kerajinan tangan. Adapun pasar modal khusus menjajakan produk-produk pasar modal. Salah satu yang paling utama adalah saham. Jadi, kalau mau lebih pas lagi, pasar modal itu mirip-mirip Glodok Plaza yang khusus memperdagangkan barang-barang elektronika.
Pusat perbelanjaan tentu memiliki pengelola yang menyediakan berbagai fasilitas. Misalnya, gedung serta perlengkapannya, tempat parkir, satpam, dan fasilitas pendukung lain. Ingat, pengelola ini berbeda dengan pemilik toko yang menjual barang-barang di sana.
Nah, pasar modal juga memiliki "pengelola pusat perbelanjaan" seperti itu. Saat ini, ada dua pengelola pasar modal di Indonesia yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Sebagai pengelola bursa,  BEJ dan BES menyediakan berbagai fasilitas. Yang terpenting adalah tempat transaksi. Cuma, lantaran jual beli saham dilakukan antar komputer, maka "tempat transaksi" yang disediakan oleh BEJ berupa sistem perdagangan yang berupa jaringan komputer. Kendati begitu, komputer-komputer itu terkumpul salam satu ruang yang biasa disebut lantai bursa atau floor. Nah, floor milik BEJ ini letaknya di lantai dasar Gedung BEJ, di kompleks SCBD Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan. Selain tempat transaksi, berbagai kebutuhan lain juga disediakan oleh pengelola bursa. Misalnya, sistem informasi, jaringan telepon, serta perbagai peraturan yang bisa membuat jual beli "modal" bisa lancar dan menguntungkan semua pihak.


Tokonya : broker saham

Sebuah mal tak akan hidup jika tak ada toko yang berjualan di sana. Begitu pula dengan pasar modal. "Toko" yang berjualan di pasar modal adalah perusahaan-perusahaan sekuritas. Perusahaan-perusahaan ini lazim disebut pula sebagai pialang saham atau broker. Disebut pialang atau broker lantaran salah satu bisnis utama mereka adalah menjadi perantara jual beli saham. Sebentar lagi anda akan tahu mengapa perlu perusahaan penyedia jasa seperti ini di pasar modal.
Berbeda dengan pasar tradisonal yang bisa menampung semua pedagang yang ingin berjualan di sana, pusat perbelanjaan modern tidak bisa melakukan hal itu. Mengapa? Karena fasilitas yang disediakan oleh pengelolanya terbatas. Oleh sebab itu, pedagang atau toko yang ingin berjualan di sebuah pusat perbelanjaan harus mendaftar dulu kepada pengelola. Aturan main seperti itu juga berlaku bagi pasar modal. Kalau ada orang ingin membuka "toko" di BEJ maupun BES, dia harus terlebih dahulu mendaftarkan perusahaan sekuritas yang dimilikinya kepada pengelola bursa. Tentunya, pihak BEJ dan BES menarik fee atas pendaftaran ini. Nah, perusahaan yang sudah terdaftar di bursa biasanya disebut anggota bursa.
Selain anggota bursa, ada juga pialang saham yang non-anggota bursa. Perusahaan-perusahaan ini sah-sah saja untuk beroperasi sebagai broker saham. Tapi, mereka tidak bisa melakukan jual-beli saham secara langsung di bursa. Dengan kata lain, untuk berjual-beli saham mereka tetap harus menggunakan jasa pialang saham lain yang terdaftar sebagai anggota bursa.


Ada wasitnya, lho!

Sebagaimana layaknya segala bentuk usaha di Indonesia yang diatur dan diawasi oleh pemerintah, pasar modal pun demikian pula. Instansi pemerintah yang berwenang di lingkungan pasar  modal adalah Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).  Tugas utama Bapepam adalah menciptakan peraturan perundangan yang mengatur dunia pasar modal agar segala pihak yang terlibat.
Barang dagangannya : Saham
Seperti telah disinggung di atas, barang dagangan utama yang diperjualbelikan lewat pasar modal adalah saham. Lalu, apa sih sebenarnya saham itu? Banyak teori rumit yang menjelaskan arti saham. Tapi jangan khawatir, Anda akan tahu pengertian saham jika menyimak ilustrasi berikut :
 
Slamet mendirikan pabrik tahu yang dinamainya PT. Legit. Uang tabunganya sebanyak Rp. 100 juta habis untuk     membangun pabrik tahu itu. Setelah setahun berjalan, ternyata usaha PT. Legit berjalan lancar. Permintaan Tahu Legit meningkat pesat. Sayangnya, semuanya belum bisa dipenuhi. Setelah dipikir-pikir, Slamet merasa sayang kalau permintaan dari para pelanggan itu dibiarkan saja. Tapi untuk memenuhi peningkatan permintaan, PT Legit harus menambah peralatan, karyawan dan dana tambahan untuk membeli bahan baku. Semuanya membutuhkan dana Rp. 50 juta. Sayangnya, tabungan Slamet tak sebanyak itu. 
Setelah berkeluh kesah kesana kemari, ada yang menyarankan agar Slamet utang saja ke bank. Tapi, setelah dicek ke bank, teryata bank mau memberi pinjaman kalau Slamet menyerahkan agunan yang setimpal serta mengenakan bunga yang tinggi. Setelah dihitung-hitung bunga yang dikenakan terlalu berat. Karena itu, saran untuk mengutang ke bank dia lupakan.

Tiba-tiba, suatu hari si Budi, kawan lama Slamaet, datang berkunjung. Setelah ngobrol ngalor-ngidul Slamet menceritakan kesulitan usahanya. Setelah mendapat penjelasan seksama dan yakin bahwa usaha PT Legit akan semakin maju jika meningkatkan produki, Budi mengusulkan diri untuk ikut andil dalam usaha PT. Legit dengan manambah kebutuhan dana baru yang diperlukan, yaitu Rp 50 juta. Syaratnya, Budi menuntut 1/3 dari setiap keuntungan bersih PT. Legit. Hitungan Budi : modal awal Slamet dulu Rp. 100 juta. Kalau ditambah Rp. 50  juta dari kantongnya, berarti modal PT. Legit menjadi Rp 150 juta. Nah, karena Budi akan memiliki sepertiga dari modal PT. Legit itu, maka dia menuntut kuntungan seperti tadi. 

Rupanya Slamet memiliki perhitungan lain. Benar dulu dia hanya menghabiskan dana sebesar Rp. 100 juta saat mendirikan PT. Legit. Tapi itu kan setahun lampau. Kini setelah PT. Legit sukses membuat tahu dan laris, Slamet tidak terima kalau perusahaanya cuma dinilai Rp. 100 juta. Dia sudah bekerja keras untuk membesarkan PT. Legit. Setelah keduanya berunding, akhirnya ditempuh jalan. Slamet membagi modal perusahaanya menjadi 6  bagian. Masing-masing bagian diberinya nilai Rp. 25 juta. Ini berarti, setelah berjalan selama satu tahun, Slamet menganggap nilai perusahaannya sudah menjadi Rp. 150 juta. Nah, karena Budi tetap ingin andil sebanyak 50 juta, maka 2 bagian dari perusahaan itu dijualnya kepada Budi (Rp. 25 juta kali 2). 

Nah, sekarang Budi sudah ikut menjadi pemilik PT Legit. Berapa banyak bagian PT. Legit yang dimilikinya? Tentu saja : 2/6 atau 33,3%. Nah, bagian-bagian perusahaan itulah yang disebut saham. Dengan demikian pemegang saham PT. Legit sekarang adalah Slamet dan Budi. Slamet memiliki 66,6% saham dan Budi memiliki 33,3% saham. Kelak dari setiap keuntungan bersih Budi berhak mendapat bagian 33,3%  atau 1/3 dan Slamet mendapat 66,6%  atau 2/3 bagian. Lho, kok laba yang diperoleh Budi besarnya sama (1/3) dengan usulannya dulu yang ditolak Slamet? Benar, tapi harap diingat, selain tetap berhak mendapat 2/3 bagian dari keuntungan PT. Legit, kini Slamet juga memiliki tambahan uang sebanyak Rp. 50 juta dari penjualan saham tadi.
 

Copy Rights 
Bursa  Rumor 2000

Web Master

Homepage